Free Essay

Aceh

In: Historical Events

Submitted By Steffi
Words 2073
Pages 9
MAKALAH SEJARAH
KERAJAAN ACEH

[pic]

Oleh :
Maya Soetanto XI IA-1/22
Cicilia Steffi Hidajat XI IA-1/26
Aditya Hendratha XI IA-1/28
Alim Nugroho Santoso XI IA-1/29
Witny Widjaja XI IA-1/33
Michelle Nataia Juwono XI IA-1/40

SMAK ST. LOUIS 1 SURABAYA
2008/2009

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesultanan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan dari Samudera Pasai yang pada tahun 1360 ditaklukkan oleh Majapahit hingga kemundurannya di abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh) dengan sultan pertamnya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H atau pada tanggal 8 September 1507. Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana perjalanan Kerajaan Aceh secara umum? 2. Bagaimana struktur pemerintahaan Kerajaan Aceh? 3. Bagaimana kehidupan politik Kerajaan Aceh? 4. Bagaimana kehidupan sosial budaya Kerajaan Aceh? 5. Bagaimana kronologis terjadinya perang Aceh?

BAB II
ACEH

A. Perjalanan Kerajaan Aceh Secara Umum

1. Awal mula

Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awal masa pemerintahannya wilayah Aceh mencakup Daya, Deli, Pedir, Pasai, dan Aru. Pada tahun 1528, Ali Mughayat Syah digantikan oleh putera sulungnya yang bernama Salahuddin, yang kemudian berkuasa hingga tahun 1537. Kemudian Salahuddin digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar yang berkuasa hingga tahun 1568.

2. Masa kejayaan

Kerajaan Aceh mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Pada masa kepemimpinannya, Aceh telah berhasil merebut Malaka dari tangan Portugis dan meluaskan pengaruhnya atas pulau-pulau Sunda (Sumatera, Jawa dan Borneo) serta atas sebagian tanah Semenanjung Melayu. Selain itu Aceh juga melakukan hubungan diplomatik dengan semua bangsa yang melayari Lautan Hindia. Dalam pendidikan kesusasteraan dan ilmu agama, Aceh telah melahirkan beberapa ulama ternama, seperti Hamzah Fansuri dalam bukunya Tabyan Fi Ma'rifati al-U Adyan, Syamsuddin al-Sumatrani dalam bukunya Mi'raj al-Muhakikin al-Iman, Nuruddin ar-Raniry dalam bukunya Sirat al-Mustaqim, dan Syekh Abdul Rauf Singkili dalam bukunya Mi'raj al-Tulabb Fi Fashil.

3. Kemunduran

Kemunduran Kerajaan Aceh berawal sejak kemangkatan Sultan Iskandar Tani pada tahun 1641. Salah satu faktor penyebab kemunduran Aceh ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka. Hal ini ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Deli dan Bengkulu ke dalam kekuasaan Belanda. Faktor penting lainnya ialah perebutan kekuasaan antar ahli waris kerajaan. Traktat London yang ditandatangani pada 1824 telah memberi kekuasaan kepada Belanda untuk menguasai segala kawasan Inggris di Sumatra sementara Belanda akan menyerahkan segala kekuasaan perdagangan mereka di India dan juga berjanji tidak akan menandingi Inggris untuk menguasai Singapura. Pada akhir Nopember 1871, lahirlah apa yang disebut dengan Traktat Sumatera, dimana disebutkan dengan jelas "Inggris wajib berlepas diri dari segala unjuk perasaan terhadap perluasan kekuasaan Belanda di bagian manapun di Sumatera. Pembatasan-pembatasan Traktat London 1824 mengenai Aceh dibatalkan." Sejak itu, usaha-usaha untuk menyerbu Aceh makin santer disuarakan, baik dari negeri Belanda maupun Batavia. Setelah melakukan peperangan selama 40 tahun, Kesultanan Aceh akhirnya jatuh ke pangkuan kolonial Hindia-Belanda. Sejak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Aceh menyatakan bersedia bergabung ke dalam Republik indonesia atas ajakan dan bujukan dari Soekarno kepada pemimpin Aceh Tengku Muhammad Daud Beureueh saat itu.

B. Struktur Pemerintahan Kerajaan Aceh Pada masa Sultan Ala` al-Din Mansur Syah (1577-1589) berkuasa, kerajaan Aceh sudah memiliki undang-undang yang terangkum dalam kitab Kanun Syarak Kerajaan Aceh. Undang-undang ini berbasis pada al-Quran dan hadits yang mengikat seluruh rakyat dan bangsa Aceh. Di dalamnya, terkandung berbagai aturan mengenai kehidupan bangsa Aceh, termasuk syarat-syarat pemilihan pegawai kerajaan. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa, walaupun Aceh telah memiliki undang-undang, ternyata belum cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah kerajaan konstitusional. Dalam struktur pemerintahan Aceh, sultan merupakan penguasa tertinggi yang membawahi jabatan struktural lainnya. Di antara jabatan struktural lainnya adalah uleebalang yang mengepalai unit pemerintahan nanggroe (negeri), panglima sagoe (panglima sagi) yang memimpin unit pemerintahan Sagi, Kepala Mukim yang menjadi pimpinan unit pemerintahan mukim yang terdiri dari beberapa gampong, dan keuchiek atau geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan gampong (kampung). Jabatan struktural ini mengurus masalah keduniaan (sekuler). Sedangkan pemimpin yang mengurus masalah keagamaan adalah tengku meunasah, imam mukim, kadli dan para teungku.

C. Kehidupan Politik Kerajaan Aceh Kerajaan Aceh mulai tumbuh pada abad ke-17 dengan berpusat di Kutaraja. Sultan Ali Munghayat Syah adalah sultan pertama dan pendiri kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh mulai mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Iskandar Muda. Aceh juga memiliki Bandar internasional yang membawa keuntungan, yaitu Bandar Aceh. Aceh melakukan ekspansi dengan melakukan penaklukan demi penaklukan hingga daerah kekuasaannya terbentang dari Deli sampai dengan Semenanjung Malaka. Dalam menduduki Malaka, Aceh menemukan kesulitan karena Malaka di bawah kekuasaan Portugis. Pada masa pemerintahan Iskandar Muda, Aceh diperintah dengan sangat ketat, terbukti dengan adanya pengotrolan yang ketat. Selain itu, dalam bidang ekonomi, Aceh mampu menjadi pengekspor beras yang cukup besar. Pajak juga mulai diberlakukan bagi kapal asing yang berlabuh di Aceh dan juga pajak perdagangan. Dalam bidang militer, Sultan Iskandar Muda membangun angkatan perang yang sangat tangguh. Para pasukan dibagi menjadi 2 kelompok, yakni : • Angkatan darat yang beranggotakan 40 ribu pasukan. • Angkatan laut yang memiliki 100-200 kapal.
Selain itu, Sultan Iskandar Muda juga memiliki seorang penasihat perang yang memiliki pengetahuan akan taktik perang Belanda dan Perancis. Aceh memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti Usman di Turki, Inggris, dan Belanda. Pada masa Sultan Iskandar Muda, Aceh mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah balasan berupa sebuah meriam dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh. Sebelum Iskandar Muda berkuasa, sebenarnya juga telah terjalin hubungan baik dengan Ratu Elizabeth I dan penggantinya, Raja James dari Inggris. Bahkan, Ratu Elizabeth pernah mengirim utusannya, Sir James Lancaster dengan membawa seperangkat perhiasan bernilai tinggi dan surat untuk meminta izin agar Inggris diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Aceh. Sultan Aceh menjawab positif permintaan itu dan membalasnya dengan mengirim seperangkat hadiah, disertai surat yang ditulis dengan tinta emas. Sir James Lancaster sebagai pembawa pesan juga dianugerahi gelar “Orang Kaya Putih” sebagai penghormatan. Selain itu, Aceh juga pernah mengirim utusan yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid ke Belanda, di masa kekuasaan Pangeran Maurits, pendiri dinasti Oranye. Dalam kunjungan tersebut, Abdul Hamid meninggal dunia dan dimakamkan di pekarangan sebuah gereja dengan penuh penghormatan, dihadiri oleh para pembesar Belanda. Saat ini, di makam tersebut terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana. Setelah Sultan Iskandar Muda meninggal, Aceh mengalami kemunduran. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : • Terjadinya konflik internal di Aceh, yang disebabkan penolakan para ulama Wujudiyah terhadap pemimpin perempuan. Para ulama Wujudiyah saat itu berpandangan bahwa, hukum Islam tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki. • Kekalahan Aceh melawan Portugis di Malaka membawa korban jiwa dan harta benda serta kapal-kapal yang cukup besar dalam perang tahun 1629. • Tidak adanya tokoh yang mampu menggantikan Sultan Iskandar Muda. • Daerah-daerah taklukan mulai melepasakan diri dari Aceh, seperti Johor, Perlak, Pahang, Minangkabau, dan Siak.

D. Kehidupan Sosial Budaya Kerajaan Aceh 1. Agama Kerajaan Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Agam Islam sangat kental dalam hidup para rakyat yang mayoritas beragama Islam. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut dengan “tengku meunasah”. Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Manuskrip-manuskrip terkenal peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti “Bustanussalatin” dan “Tibyan fi Ma`rifatil Adyan” karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab “Tarjuman al-Mustafid” yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan “Tajussalatin” karya Hamzah Fansuri. Peninggalan manuskrip tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. 2. Struktur Sosial Lapisan sosial masyarakat Aceh didasarkan pada jabatan struktural, kualitas keagamaan dan kepemilikan harta benda. Mereka yang memiliki kedudukan di kerajaan menduduki lapisan sosial tersendiri, lapisan teratasnya adalah sultan, dibawahnya ada para penguasa daerah. Sedangkan lapisan berdasarkan keagamaan merupakan lapisan yang merujuk pada status dan peran yang dimainkan oleh seseorang dalam kehidupan keagamaan. Dalam lapisan ini, merkeka yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad menempati posisi istimewa dalam kehidupan sehari-hari, yang laki-laki bergelar Sayyed, dan yang perempuan bergelar Syarifah. Lapisan sosial lainnya yang memegang peranan yang tidak kalah penting adalah kepemilikan harta benda. Para orang kaya menguasai perdagangan, saat itu komoditasnya adalah rempah-rempah, dan yang terpenting adalah lada. 3. Kehidupan sehari-hari Sebagai tempat tinggal sehari-hari, orang Aceh membangun rumah yang sering disebut juga dengan rumoh Aceh. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, mereka bercocok tanam di lahan yang memang tersedia luas di Aceh. Bagi yang tinggal di kawasan kota pesisir, banyak juga yang berprofesi sebagai pedagang. Senjata tradisional orang Aceh yang paling terkenal adalah rencong, bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat dari dekat menyerupai tulisan kaligrafi bismillah. Senjata khas lainnya adalah Sikin Panyang, Klewang dan Peudeung oon Teubee.

E. Perang Aceh
Tahun 1873 pecah perang antara Aceh dan Belanda. Perang ini dikenal dengan Perang Aceh. Kronologis terjadinya Perang Aceh, yaitu :
1. Belanda melanggar perjanjian Siak 1858 dengan menduduki daerah Siak padahal daerah-daerah itu sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berada dibawah kekuasaan Aceh.
2. Akibat dari pendudukan Belanda atas Siak maka berakhirlah perjanjian London yang isinya adalah Belanda dan Inggris membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara yaitu dengan garis lintang Singapura. Keduanya mengakui kedaulatan Aceh.
3. Aceh membalas dendam dengan menenggelamkan kapal-kapal Belanda yang melintasi perairan Aceh. Hal ini disetujui Inggris karena memang Belanda bersalah.
4. Di bukanya terusan Suez oleh Ferdinand de Lessep. Menyebabkan perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan.
5. Pada tahun 1871 Ingris dan Belanda mengekuarkan Traktat Sumatera, yang menyatakan bahwa Inggris tidak akan menghalangi usaha Belanda untuk meluaskan daerah kekusaannya sampai di Aceh dalam rangka Pax Netherlandica
6. Aceh berusaha untuk mencari bantuan dengan mengirim utusan ke Turki. Selain itu juga dijalin hubungan ke perwakilan negara Amerika Serikat dan Italia di Singapura. Tindakan Aceh ini mencemaskan Belanda lalu menuntut Aceh agar mengakui kedautalan Belanda. Aceh menolak tututan tersebut sehingga Belanda melakukan penyerangan. Sifat perlawanan Aceh ada dua macam yaitu politik dan keagamaan. Perlawanan politik bertujuan untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Perlawanan politik dipimpin oleh para bangsawan yang bergelar Teuku.

BAB III
KESIMPULAN

Kerajaan Aceh mulai berdiri seusai keruntuhan kerajaan Samudra Pasai pada tahun 1360M. Aceh mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, Aceh sangat maju dalam berbagai bidang, baik dalam bidang politik dan pemerintahan, bidang ekonomi, bidang keagamaan, dan bidang pertahanan. Kemunduran Kerajaan Aceh dimulai sejak sepeninggal Sultan Iskandar Muda. Struktur pemerintahan Aceh sudah tersusun dengan jelas sesuai dengan Kanun Syarak Kerajaan Aceh. Undang-undang ini berdasarkan pada Al-Quran dan hadits. Kehidupan politik Kerajaan Aceh juga telah mengalami kemajuan yang signifikan. Terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada masa itu, Aceh memiliki sistem pertahanan dan militer yang tangguh dan ketat. Selain itu, hubungan Aceh dengan pihak luar telah terbangun. Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Nusantara dan dengan negara-negara lain. Kehidupan sosial budaya Kerajaan Aceh ditinjau dari aspek keagamaan dapat dilihat dengan jelas bahwa kebudayaan agama Islam, dimana agama Islam merupakan agama mayoritas, sangat kental dalam kehidupan rakyat Aceh juga dalam pemerintahan. Dalam struktur sosial ada 3 kunci yang menetukan lapisan seseoran Sedangkan dari aspek kehidupan sehari-hari, para penduduk sebagian besar bekerja sebagai pedagang dan bercocok tanam. Perang Aceh pada tahun 1873 merupakan warna dalam perjalanan hidup Aceh. Perang antara Aceh dan Belanda berlangsung selama puluhan tahun. Serangan-serangan Belanda cukup menyakitkan Aceh sehingga salah satu penyebab keruntuhan Aceh adalah perang Aceh. Perang ini juga memakan begitu banyak korban dan para pahlawan berguguran.

DAFTAR PUSTAKA

www_e-dukasi_net-mol-datafitur-modul_online-MO_104-images-sej201_57_JPG.htm file:///H:/Aceh/Sejarah Aceh - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm www.melayuonline.com www.wikipedia.com
Mustopo, M. Habib Prof. Dr., et all. Sejarah SMA Kelas XI 2 Program IPA. Jakarta: Yudistira.…...

Similar Documents

Premium Essay

Disaster Management in South-East Asia

...limit their disaster management capabilities. While many more actors in the international disaster relief system have emerged (including NGOs), the main source or channel of disaster relief continues to be the national government. Within the government, a nodal ministry is usually assigned the task of coordinating disaster relief3, which is also helpful for dealing with the multiplicity of donors and agencies. Aceh (Indonesia) Tsunami, 2004 The tsunami of December 26, 2004 that struck Indonesia, Thailand, and the South Indian coastline (including other countries as far away as Somalia in Africa) was among the biggest natural calamity in recent times. The tsunami waves (which travelled at the speed of 600–800 km per hour) were preceded by an earthquake measuring 9.0 on the Richter scale under the Indian Ocean seabed. It was the most powerful earthquake in the region since 1899. Table 1: 2004 Tsunami: Dead and Missing Country India Indonesia Sri Lanka Thailand Dead 10,744 2,28,429* 30,957 5,388 2,75,518 The west coast of Sumatra was hit, affecting a 500 km stretch of Aceh province coastline. The death toll of the tsunami was put at 2,89,944 (including those missing) in South and South-east Asia. Table 1 shows the numbers of dead and missing persons of four main countries affected by the 2004 tsunami. Missing 5,669 -5,637 3,120 14,426 Total 16,413 2,28,429 36,594 8,508 2,89,944 *Dead and Missing Vol. 6 No. 1 January 2012 Source: Commodore (Retd.) R.P. Pruthi,......

Words: 5418 - Pages: 22

Premium Essay

Research

...theory, production of export crops was meant to provide cash for Javanese villagers to pay their taxes. This was in Dutch known as the Cultuurstelsel (Cultivation system), and it covered spices and a wide range of other tropical cash crops. Cultuur stelsel was iniated on coffee at Preanger region of West Java. In practice however, the prices set for the cash crops by the government were too low and they diverted labor from rice production, causing great hardship for farmers. By mid of 1870’s the Dutch East Indies expanded Arabica coffee growing areas in Sumatra, Bali, Sulawesi and Timor. In Sulawesi the coffee was first planted in 1850. In North Sumatra highlands coffee was first grown near Lake Toba in 1888, followed in Gayo highland (Aceh) near Lake Laut Tawar in 1924. In 1860, a Dutch colonial official, Eduard Douwes Dekker, wrote a book called “Max Havelaar and the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company”, which exposed the oppression of villagers by corrupt and greedy officials. This book helped to change Dutch public opinion about the “Cultivation System” and colonialism in general. More recently, the name Max Havelaar was adopted by one of the first fair trade organizations.[3] In the late eighteen hundreds, Dutch colonialists established large coffee plantations on the Ijen Plateau in eastern Java. However, disaster struck in the 1876, when the coffee rust disease swept through Indonesia, wiping out most of Typica cultivar. Robusta coffee (C. canephor......

Words: 4090 - Pages: 17

Free Essay

Effects of Tsunami on Indonesia

...up of debris across access roads and aircraft landing areas. Damage includes: 1.3 million homes and buildings; 8 ports and 4 fuel depots; 85% of the water and 92% of the sanitation system; and 120 km of roads and 18 bridges. Aceh is closed to tourism and permits are needed for anyone entering the area. The World Food Program estimated that it fed 500,000 displaced or affected people in Indonesia in February - up from the January figure of 330,000. Health risks are high, though plentiful measures are in place via local and international medical teams on the ground.The Acehnese are reportedly quite wary of foreigners taking advantage of their plight. Over 50,000 Indonesian troops, plus 4,478 foreign troops from 11 countries are currently on the ground in Aceh, plus thousands more in ships off the coast. As for aid workers, 3,645 were recently registered at the UN compound, but the list is believed to be far from complete. There have been several reports of tensions regarding control and distribution of aid.It is without any doubt that Indonesia was the worst hit by the earthquake and the resulting tsunami. The epicenter of the Earthquake was located some 160km west of Sumatra and nearly all the casualties and damage took place within the province of Aceh. Indonesia's Ministry of Health has confirmed 166,320 dead but this is not the final count because most regions are still inaccessible and reports are slow. The Ministry of Foreign Affairs has stated that up to 100,000 are......

Words: 824 - Pages: 4

Premium Essay

Jsjdsj

...Japanese Tsunami Earthquake a surprise The unexpected disaster was neither the largest nor deadliest earthquake and tsunami to strike this century. That record goes to the 2004 Banda-Aceh earthquake and tsunami in Sumatra, a magnitude-9.1, which killed more than 230,000 people. But Japan's one-two punch proved especially devastating for the earthquake-savvy country, because few scientists had predicted the country would experience such a large earthquake and tsunami. The cause The 2011 Tohoku earthquake struck offshore of Japan, along a subduction zone where two of Earth's tectonic plates collide. In a subduction zone, one plate slides beneath another into the mantle, the hotter layer beneath the crust. The great plates stick and slip, causing earthquakes. East of Japan, the Pacific plate dives beneath the overriding Eurasian plate. The temblor completely released centuries of built up stress between the two tectonic plates, a recent study found. The earthquake started on a Friday at 2:46 p.m. local time (5:46 a.m. UTC). It was centered on the seafloor 45 miles (72 kilometers) east of Tohoku, at a depth of 20 miles (32 km) below the surface. The shaking lasted about six minutes. Deaths More than 18,000 people were killed in the disaster. Most died by drowning Nuclear meltdown The tsunami caused a cooling system failure at the Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant, which resulted in a level 7 nuclear meltdown and release of radioactive materials. About 300 tons of......

Words: 267 - Pages: 2

Free Essay

Testing

...kingdom having little in common with the «agrarian» kingdoms based in the great river basins of the Southeast Asian mainland. It had more in common with 15th century Malacca, which was to succeed it as the lea ding trade centre on the Straits now bearing its name; or with Brunei, Pasai, Aceh and Johor (Reid, 1980, p.240). According to Wheatley, Kedah's prosperity had begun to decline by the end of the eleventh century (1961,p.281). Lim, however, situates the decline of Kedah's status as a trading port «from the fourteenth century onwards» (1978, p. 11). In either case, «it was never to recapture the old fame of an entrepôt-city» (Sharom, 1984, p. 9). It became necessary to «turn atten tion the land, and by the time the Portuguese arrived, (it) was already to an important producer of rice in the peninsula» (ibid.), as claimed by Tome Pires who, in 1512, «mentioned Kedah as having rice in quantities» (Bonney, 1971, p. 6, referring to Cortesao, 1944). It would seem that by the early 17th century Kedah's major wealth was pepper, produced in large part on the island of Langkawi, then under its control. But this pepper competed with Sumatra's and this was frowned upon by Iskandar Muda, the powerful Sultan of Aceh, who decided to el iminate competition. In 1619, an Acehnese naval force attacked and des troyed the city of Kedah (Lombard, 1967, p. 93) (*); in 1620 a new fleet was sent to destroy the pepper plantations on Langkawi island (ibid.). Lombard adds :«one can conclude that,......

Words: 1144 - Pages: 5

Free Essay

The Gma Resistance

...Assignment “ Interviewing Counseling and Negotiation “ The Free Aceh Movement ( Gerakan Aceh Merdeka ) was a separatist group seeking independence for the Aceh region in Northern Sumatera from Indonesia. The group was in a steady armed conflict with the Indonesian government for 29 years from 1976 until 2005. In total more then 15.000 people have been killed during the conflict. Due to the mediation lead by an NGO called the Crisis Management Initiative the conflict was resolved in 2005 leading to a surrender of the GAM. During the colonization of the Dutch in 1800 Banda Aceh was the center of resistance against the suppression of the Dutch colonizer. After the end of the colonization the Dutch handed the region over to Indonesia. According to the Aceh authorities they have not been consulted in this regard. The subsequent armed rebellion in Aceh lead to the granting of a special status by the ruling president Sukarno. Aceh consequently was sovereign in all policies regarding religion, custom law and education. The GAM has been founded by Hasan di Tiro, an Acehnese citizen. In 1976 after the discovery of large gas resources in Lhokseumawe di Tiro applied for a pipeline contract. After he was outbid by an American company he blamed the Indonesian government for his loss. Furthermore his brother died at the same time due to what di Tiro considered as negligent behaviour of a Javanese doctor. After di Tiro found the GAM in 1977 he organized the first minor actions,......

Words: 1120 - Pages: 5

Free Essay

Gsgsg

...Southeast Asia and the South Pacific Table 1 The territorial wars in Southeast Asia and South Pacific, 1960–2005 Territory Insurgents Start date 5 August 1950 1 January 1965 Episode start 5 August 1950 31 December 1965 1 January 1967 1 January 1976 7 December 1975 7 December 1975 1 January 1992 1 January 1997 1 May 1989 1 January 1963 1 January 1948 8 September 1990 8 January 1999 1 January 1963 31 December 1948 27 January 1995 1 January 1997 12 April 2005 1 January 1948 1 January 1948 29 December 1991 1 January 1994 1 January 1958 31 December 1948 27 March 1990 23 December 1996 1 January 1949 1 January 1957 Episode end 249 South Moluccas Republic of South Moluccas West Papua West Papua West Papua East Timor East Timor East Timor Aceh Aceh North Borneo Karen Karen Karen Karen Arakan Arakan Arakan Mon Mon Mon Kachin Kachin Karenni Karenni Karenni Karenni Shan OPM OPM OPM Fretilin Fretilin Fretilin GAM GAM CCO God’s army, KNU God’s army, KNU God’s army, KNU God’s army, KNU Arakan Insurgents, ARIF, RSO Arakan Insurgents, ARIF, RSO Arakan Insurgents, ARIF, RSO Various Insurgents, NMSP, BMA Various Insurgents, NMSP, BMA Various Insurgents, NMSP, BMA PNDF, KIO PNDF, KIO KNPP KNPP KNPP KNPP SSA, SSIA, PSLO, SSNPLO, SSRA, MTA, SSA/s SSA, SSIA, PSLO, SSNPLO, SSRA, MTA, SSA/s SSA, SSIA, PSLO, SSNPLO, SSRA, MTA, SSA/s SSA, SSIA, PSLO, SSNPLO, SSRA, MTA, SSA/s 15 November 1950 31 December 1965 31 December 1969 31 December 1978 31 December 1989 31 December 1992 31 December 1998......

Words: 7903 - Pages: 32

Premium Essay

Docx

...blindHearing or deafMental health... | Click here for further details. | India | Interventions for Disabled Children (Sarva Siksha Abhiyan) | Primary | Visual or blindHearing or deafMental health... | Click here for further details. | India | Badibata - A Drive for Enrolment | Primary | Visual or blindHearing or deafMental health... | Click here for further details. | India | Training for Inclusive Education Resource Teachers | Primary | Visual or blindHearing or deafMental health... | Click here for further details. | India | Inclusive Education Resource Teachers | Primary | Visual or blindHearing or deafMental health... | Click here for further details. | Indonesia | Inclusive Education for Children with Disabilities in Banda Aceh | Primary | Visual or blindHearing or deafMobility or physical,... | Click here for further details. | Indonesia | Education for Children with Disabilities: A Local Authority Framework for Inclusion | Primary | Visual or blindHearing or deafMental health... | Click here for further details. | Kenya | Nyanza Inclusive Education Programme | Primary | Visual or blindHearing or deafLearning or intellectual... | Click here for further details. | Kenya | Nyando Inclusive Education Project | Primary | Visual or blindHearing or deafLearning or intellectual... | Click here for further details. | Malawi | Inclusive Education in Primary Schools in Shire Highlands in Education n Malawi | Primary | Visual or blindHearing or deafMental health....

Words: 11793 - Pages: 48

Free Essay

Indonesia

...prosperous ethnic Chinese. As the economic crisis deepened, student demonstrators occupied the national parliament, demanding Suharto's ouster. On May 21, 1998, Suharto stepped down, ending 32 years of rule, and handed over power to Vice President B. J. Habibie. June 7, 1999, marked Indonesia's first free parliamentary election since 1955. The ruling Golkar Party took a backseat to the Indonesian Democratic Party-Struggle (PDI-P), led by Megawati Sukarnoputri, the daughter of Sukarno, Indonesia's first president. East Timor Gains Independence The ethnic, religious, and political tensions kept in check during Suharto's 32 years of authoritarian rule erupted in the months following his downfall. Rioting and violence shook the provinces of Aceh, Ambon (in the Moluccas), Borneo, and Irian Jaya. But nowhere was the violence more brutal and unjust than in East Timor. Habibie unexpectedly ended 25 years of Indonesian intransigence by announcing in Feb. 1999 that he was willing to hold a referendum on East Timorese independence. Twice rescheduled because of violence, a UN-organized referendum took place on Aug. 30, 1999, with 78.5% of the population voting to secede from Indonesia. In the days following the election, pro-Indonesian militias and Indonesian soldiers massacred civilians and forced a third of the population out of the region. After enormous international pressure, the government, which was either unwilling or unable to stop the violent rampage, finally agreed......

Words: 2274 - Pages: 10

Free Essay

Coconut

...ari-Aceh “Kita sepakat ekspor kelapa 1 juta butir setiap bulannya melalui Pelabuhan Krueng Geukueh dan Langsa,” kata Safwan. NEGARA Malaysia siap menampung satu juta butir kelapa tiap bulannya dari Provinsi Aceh. Kesepakatan ini tercapai dari kunjungan Menteri Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia, Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yakoob, Minggu 2 Maret 2014. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Aceh, Safwan SE MSi. “Kita sepakat ekspor  kelapa 1 juta butir setiap bulannya melalui Pelabuhan Krueng Geukueh dan Langsa,” kata Safwan. Sebenarnya, kata dia, ekspor kelapa dari Aceh ke Malaysia ini sudah berlangsung lama. “Banyak pengusaha yang mengambil kelapa dari Aceh, tetapi ekspor dari Batam.Ada yang melalui Krueng Geukueh, tapi hanya sedikit,” kata Safwan lagi. Namun kata Safwan, di bawah Pemerintahan Aceh saat ini, segala bentuk ekspor komoditas dari Aceh, juga akan difokuskan pada pelabuhan yang ada di Aceh. Salah satunya seperti Krueng Geukueh. Sebelumnya diberitakan, Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yakoob, mengaku terkejut ketika mengetahui kalau kelapa yang mereka impor (Malaysia-red) selama ini ternyata berasal dari Provinsi Aceh. Padahal, kata dia, Malaysia menerima impor kelapa dari Indonesia melalui Pelabuhan Batam. “Saya heran, kelapa Aceh diimpor dari Batam,” ujarnya dalam sambutan pada acara jamuan makan malam di Pendopo Gubernur Aceh, Sabtu malam, 1 Maret 2014.Acara ini juga turut dihadiri Wali Nanggroe Aceh,......

Words: 3171 - Pages: 13

Free Essay

Separatist and Secessionist Movements in Southeast Asia

...an increasing threat to political stability in the region and have been a major source of disruption in post-colonial times. The region has both the highest incidence of ethnic conflict and the highest number of independent ethno-political groups, with most internal conflicts based around communal, religious or ethnic issues (Reilly 2002, 8). This essay will argue that separatism is a result of a collective sense of grievance from social, economic, ethnic or political marginalisation. It will present the case studies of West Papua and the GAM (Gerakan Aceh Merdeka) movement in Aceh, Indonesia to demonstrate this marginalisation and its relation to national coherency in the terms of perceptions of identity and inclusion within national discourse. Firstly, this essay will discuss the modernisation and democratisation of the region and the role it plays in marginalisation. It will then explore the marginalisation in West Papua and Aceh and compare the effect on both separatist movements. The region of Southeast Asia is in the midst of significant economic, social and political change. From authoritarian rule to democracy and from tradition to modernity, these transitions can often lead to conflict (Reilly 2002). The rapid democratisation of multi-ethnic states is likely to lead to ethnic-based quests for self-determination and therefore the creation of separatist movements, as evident in Southeast Asia (Reilly 2002, 12). As a result, the democratisation of countries like......

Words: 1538 - Pages: 7

Premium Essay

Edm503

...patient symptoms and/or patient records (Morse, 2015). Most surveillance systems on the global scale tend to be passive and target only specific diseases. This means that there are numerous individual systems, which often lack the capability of information-sharing in which “new” or currently unknown diseases might be picked up only unsystematically or randomly (Morse, 2015). This being said, the global system is often used as a reactive system, and only complicates matters. According to Morse (2015), each country has its own process as far as collecting and reflecting data within the organizations public health system. This can cause inaccurate ID of infectious disease when pre-planning for an international response. For example, in Aceh, Indonesia following the 2004 tsunami, a number of issues were found to hamper the surveillance and early warning systems. These included: multiple reporting of individual patients because of multiple sources of health services; incomplete or limited reporting which prevented adequate follow up of patients; inconsistent weekly reporting by agencies, especially as a result of their temporariness; lack of data allowing estimation of the population at risk, especially due to the high mobility of displaced personnel and the large number of dead and missing; physical difficulty of reaching the affected areas and lack of regular laboratory confirmation of suspected cases (Morse, 2015). A strong global health surveillance system is needed......

Words: 1652 - Pages: 7

Free Essay

TsumanibøLgens Hastighed

...kan se på graferne er der er en overensstemmelse. 14. I tabel 2 er hastigheden angivet i m/sek. Omregn til km/t. På baggrund af dine beregninger: Kan du løbe fra en tsunami, der nærmer sig stranden (antag at dybden er ca. 10 m)? 15. Når bølgen nærmer sig kysten bremses den som påvist i tabel 2 altså op. Overvej, hvad det betyder for højden af bølgen. Hastigheden sænkes i takt med jo lavere vandet er. Bølgen vokser i højden. Friktionen øges når vandstanden bliver lavere. Den bremser op og skubber bølgen op i højden. Forsøg 1 = tabel 1 Forsøg 2 = tabel 2 Nordspidsen af Sumatra ved storbyen Banda Aceh (rød pil). Her ramte tsunamien d. 26.12.2004 og dræbte langt over 100.000 mennesker i området. Se på topografien på elevationsprofilen (både havbund til venstre for den røde pil og land til højre) og forklar, hvorfor Banda Aceh er/var særlig sårbar overfor tsunamier. ...

Words: 639 - Pages: 3

Premium Essay

Climate Change

...century, for example, led to a 13 per cent decline in forest cover as areas were cleared for agriculture, and a decline in fish supplies in Ghana may have led to a significant increase in bushmeat hunting. "If we don't take a look at the whole picture, but instead choose to look only at small parts of it we stand to make poor decisions about how to respond that could do more damage than climate change itself to the planet's biodiversity and the ecosystem services that help to keep us all alive," Turner said. "While the Tsunami in 2004 was not a climate event, many of the responses that it stimulated are comparable with how people will react to extreme weather events -- and the damage that the response to the Tsunami did to many of Aceh province's important ecosystems as a result of extraction of timber and other building materials, and poor choices of locations for building , should be a lesson to us all." Turner adds: "Climate change mitigation and adaptation are essential. We have to ensure that these responses do not compromise the biodiversity and ecosystem services upon which societies ultimately depend. We have to reduce emissions, we have to ensure the stability of food supplies jeopardized by climate change, we have to help people survive severe weather events -- but we must plan these things so that we don't destroy life-sustaining forests, wetlands, and oceans in the process.' The paper concludes that there are many ways of ensuring that the human......

Words: 619 - Pages: 3

Free Essay

Mono

... | |Laporan Keuangan Pemerintah Kota Banda Aceh Tahun 2009 | |Laporan Realisasi Anggaran 2009 | |Laporan Arus Kas 31 Desember 2009 | |Neraca Daerah Per 31 Desember 2009 | |Catatan Atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2009 | |PEMERINTAH KOTA BANDA ACEH | |LAPORAN......

Words: 2311 - Pages: 10